Monday, December 3, 2012

Sayap yang patah

Melihat judulnya, pasti semua orang akan berpikir... mmm... Kahlil Gibran..

Yeah.. it's not. Ini adalah kisah tentang saya.

Saya menatap kehidupan. Me.. After that broken-hearted-break-up.. DAMN... I think I will never be the same. Saya berpikir, saya takkan pernah utuh kembali. Saya takkan bisa memandang dunia dengan cara yang seindah dulu lagi. Saya takkan mampu terbang tinggi dan menikmati indahnya dunia dari atas sana. Saya jatuh, dan terpuruk, sayap-sayap saya tercerai-berai, patah.

Namun sekarang semuanya berbeda. Semua berubah saat saya menemukan dia. Atau dia menemukan saya? Ah, kami saling menemukan, nampaknya. Dia yang begitu naif. Begitu murni. Begitu tenang. Entah sejak kapan saya mulai mencintai dia. Jika dirunut-runut, kami telah saling menemukan sejak lama, 3 tahun lalu. Namun kami tak berani saling meneruskan karena posisi saya yang unavailable.

Kalo inget jaman dulu... hehehe....
Dia selalu jadi orang yang bersikap berbeda di hadapan saya. Sikap itu yang membuat saya juga jadi memandang dia berbeda. Saat yang lain mendekati saya dan senang berbicara dengan saya, dia akan menatap saya dari jauh dan memilih berbicara dengan saya melalui yahoo messenger. Entah mengapa sikap dia selalu membuat saya salah tingkah. Rasa tak nyaman muncul jika harus berbicara berdua saja dengannya. Rasa gelisah jika berada di suatu tempat hanya berdua dengannya.

Saya ingat, dulu saya pernah menceritakan dia pada sahabat saya nun jauh di sana. Saya menceritakan tentang rasanya ada yang aneh dengan salah satu teman saya. Saya suka. Saat itu, rasanya seperti mengalami perasaan cinta terlarang. Hahahaha.. Dan saya berhenti membicarakannya.

3 tahun berlalu, here I am. Semuanya telah berubah. I'm available now. Dan dia muncul begitu saja, menawarkan perasaannya yang begitu putih, lembut, dan terkadang terasa "liar". Saya merasakan benih cinta yang dulu ada (cie cie cie) ternyata malah bersemi. Cinta itu membuncah. Tak terkontrol. Menggebu. Lepas. Liar.

Waktu menjawab semuanya. Saya yakin itu. Saat ini saya sedang mempelajari dia. Saya sudah menemukan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, apakah terus atau berhenti mencintai dia. Sifat sensitif dan kekanak-kanakannya sedikit mengganggu. Dia terlalu takut kehilangan saya, dan akhirnya menjadi sedikit posesif. Dan itu mengganggu. Saya belum tahu itu akan se-mengganggu apa kedepannya.




Wednesday, August 29, 2012

Rain

Hujan pagi ini membangunkan saya karena rasa dingin yang tiba-tiba masuk melalui celah jendela kamar. Ditambah pendingin ruangan yang memang sudah dingin dan kicauan dua malaikat kecil yang ribut memaksa saya membuka mata walaupun rasanya sangat berat. Flu yang menyerang sejak 2 hari lalu membuat kepala saya terasa begitu pening, dan tanpa sadar tangan saya menarik selimut tebal menutupi kepala "please just let me sleep again...".

Saya memutuskan untuk tidak beraktifitas apapun hari ini, bangun dari tempat tidur saja rasanya begitu sulit, ditambah perasaan enggan bertemu dengan meja kerja dan segala isinya, semakin membulatkan tekad saya untuk "stay at home no matter happen, i really need some rest".

Setelah ruangan kamar tidak terlalu terasa berputar, saya perlahan duduk di pinggir tempat tidur... Berpikir keras... Bagaimana dengan setumpuk pekerjaan yang menanti? Bagaimana dengan semua janji temu yang telah dibuat hari ini? Bagaimana dengan persiapan ini dan itu yang belum sempat diselesaikan? Lalu kepala saya terasa semakin pening. "Ah, whatever.. Kesehatan saya lebih penting" kata suara cempreng dari dalam dada saya.

Ponsel saya raih, dan mulai mengetikkan kalimat permohonan ijin ke atasan, dan beberapa reminder kepada teman-teman kantor, agar tidak lupa mengerjakan hal-hal yang seharusnya saya kerjakan hari ini. "Selesai, now let's hope and pray that everything will be OK".

Setelah suasana sekeliling lebih tenang, saya mencoba memejamkan mata "sleep, eyes...sleep..." Tapi otak saya terus berputar entah ke arah mana, entah memikirkan apa atau siapa. "Sleep Dear, sleep" kata suara cempreng dari dalam dada saya. But my eyes refuse it...malah makin lebar terbuka bersamaan dengan bisingnya kerja otak di dalam tempurung kepala saya. Ah, damn... "Why!?".

Lalu saya membuka jendela kamar dan bertatapan langsung dengan sang hujan. Derainya seperti tertawa mengejek. Angin dingin yang dibawanya seperti memang berniat mengusik saya. Mengajak saya bermain bersama, seperti dulu, seperti yang selalu kami lakukan dulu. Perlahan tangan saya julurkan keluar jendela, mencuri segenggam air hujan, dan tersenyum senang bersamanya. Ah, hujanpun merindukanku ternyata... Perlahan roda berisik yang bekerja di kepalaku, berangsur diam.. Lalu hening sama sekali, sepertinya menunggu untuk mendengarkan percakapan saya dengan sang hujan.

Bulir-bulir untaian cerita dan curahan hatipun mengalir kepada hujan melalui jendela kamar saya, segala hal yang akhir-akhir ini mengusik ketenangan, semua yang tak mampu saya selesaikan, polah para sahabat yang semakin membingungkan, kesedihan dan segala ketidakpastian, semua mengalir begitu saja tanpa kata. Tanpa energi berlebih yang biasa dibutuhkan saat menuangkan uneg-uneg kepada para "ventilasi" saya.. Karena saat ini tak ada lagi energi untuk itu. I'm done with all those mess...

Butiran hujan diluar sana tertawa terbahak mengetahui isi kepala saya. Dia terkikik-kikik saat berkata "who the heck do you think you are?" >:( dan saya tersinggung oleh pertanyaan itu. Dia melanjutkan, "semua akan tetap berjalan tanpamu" dan dia bahkan mengutip kalimat bijak seorang sahabat saya "tak ada orang yang tidak tergantikan". Saya tersipu. Lanjutnya "so, why do you let your precious heart and intelligent brain suffer for these thoughts?". Saya lagi-lagi tersipu. Melihat reaksi saya, sang hujan semakin terbahak dan menari riang. Semakin deras butirannya menghantam jendela kamar yang terbuka. Terpercik sedikit saja air hujan membuat saya ingin berlari keluar dan memeluknya. Saya rindu hujan tapi tak mungkin memeluknya sekarang, flu itu akan semakin giat menyerang saat dinginnya hujan menyambut saya.

Saya menyadari segala awal pasti ada akhirnya, dan segala ketidakpastian adalah hal yang paling pasti di dunia ini. Seribu kegagalan yang saya alami adalah seribu cara yang salah yang akan mengarahkan saya ke berjuta hal yang benar. Hidup yang saya jalani sekarang adalah kesempurnaan. Terbayang secarik kertas kecil yang saya tempel di dinding sekat ruangan kerja saya "kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang". Yes indeed... Maka selama saya selalu berusaha menyenangkan semua orang dan tidak berpikir untuk mengorbankan perasaan beberapa orang, maka saya jelas gagal! Saya tersenyum malu saat sang hujan menari-nari di luar sana, menertawakan semua isi kepala saya. Yes indeed...

Suara cempreng di dalam dada saya berbisik "dear, you don't need anything, anymore..." Saya memiliki diri saya dan segala karunia yang saat ini menempel pada kehidupan saya patut disyukuri. Ketimbang sibuk larut di dalam simpul-simpul tak terurai, akan jauh lebih bermakna jika saya membangun masa depan dengan investasi jangka panjang bermata bening yang saat ini sedang menatap saya dengan penuh rasa ingin tahu "Bunda cakit ya? Kok nda kelja?". Ah... Malaikat kecilku.. my little Maharani kaulah alasan terbesarku untuk tetap menjejakkan kaki sekuat-kuatnya dan menegakkan tubuh setegak-tegaknya, lalu berkata "saya adalah seseorang dan saya tidak membutuhkan orang lain untuk menjadikan saya bermakna". Sombong, tapi buat saya itulah hal yang patut disyukuri dan dijadikan tonggak penopang saat racun labil akan membunuh saya.

Tanpa sadar sang hujan telah berlalu, meninggalkan saya bersama senyuman ganjil yang sudah lama tak terukir di wajah saya. Bahkan tak ada kata perpisahan darinya, saya hanya berharap dapat bertemu lagi dengannya dalam kondisi yang lebih baik dan memungkinkan saya memeluknya erat. Good bye, my rain... I'll have some sleep now...

Tuesday, July 10, 2012

apa yang kamu mau?

hai...
Saya hanya ingin share sedikit tentang keinginan. Saat ini saya nyaris tak tahu apa keinginan saya. Semuanya begitu abstrak. Saya mencoba menuliskan apa-apa saja yang saya inginkan.

Saya ingin sekali anak-anak saya hidup berkecukupan. Saya ingin mereka sekolah dengan baik, tumbuh menjadi anak yang pintar, hidup dalam ketenangan, selalu bahagia, dan tak merasa kurang karena kekurangan yang saat ini harus mereka rasakan...

Saya ingin diri saya mampu menjalani segala tantangan dalam hidup saya. Hati yang tenang. Jiwa yang damai. Tubuh dan mental yang sehat. Saya ingin bersekolah di luar negeri, menimba ilmu, dan kembali meniti karir di Indonesia. Karir yang bagus tentunya akan berbanding lurus dengan income yang bagus kan? Heheheh..

Saya ingin mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Bukan setengah-setengah. Karena anehnya selama ini yang saya cintai itu ilegal, terlarang, salah orang, atau lebih parah lagi, bukan cinta... Saya ingin mencintai seseorang hingga mampu mengorbankan hidup saya, hingga bisa tersenyum tanpa alasan, mampu mengarungi samudera luas demi cinta itu. Dan tentunya saya menginginkan orang itupun akan mencintai saya sebesar itu. Lalu saya berpikir...

Apakah itu mungkin? Setelah hati yang sedemikian tercabik, dan kepercayaann yang nyaris tak bersisa....? Saya sungguh tak berani mengatakan ini... saya ingin, tapi saya takut untuk berharap. Selama ini cinta terbesar yang pernah saya rasakan tentunya adalah cinta dari kedua orang tua saya, dan hingga kini saya masih belum mampu membalasnya. Mungkin seumur hidup saya takkan mampu membalasnya.

Saya hanya mampu membalas dengan berusaha tak menyakiti mereka. Berusaha menjadi anak yang membanggakan. Berusaha menjadi orang yang tak merepotkan orang lain.

See....? Saya ngalor ngidul... sebenanrnya saya mau nulis apa sih? Bahkan saat bicara sendiri pun saya tak tahu arah pembicaraan saya. hahhahahah

Monday, July 2, 2012

tanpa arah

Melihat judul tulisan saya, seperti orang yang ngga jelas..
Galau...
Ababil...
Tapi, kawan.... suka ngga suka itulah yang terjadi pada saya saat ini. Tanpa arah.

Sebenarnya saya punya tujuan hidup yang jelas: selamat dari siksa kubur dan masuk surga. Itu tentunya tujuan jangka panjang yang setiap orang pasti inginkan. Tapi saya juga manusia yang masih hidup di muka bumi. Saya masih menginginkan keduniawian. Saya menginginkan kesuksesan, karir yang baik, uang yang cukup untuk membiayai hidup saya dan anak-anak saya, sahabat yang baik (dan ganteng).. hehehhehe..

Saya menginginkan pengakuan. Kekuasaan. Cinta kasih. Kegembiraan.

Thursday, May 24, 2012

galau, penting gak?

Beberapa teman saya terkena sindrom "galau". 

Saya sendiri tidak terlalu paham apa yang dimaksud galau itu sebenarnya, tapi kira-kira begini deskripsinya:

"Galau adalah disaat kita merasa tak tahu apa yang harus dilakukan karena perasaan kita yang tidak menentu dan susah untuk diungkapkan, sebab jika diungkapkan kepada seseorang, maka perasaan akan semakin tidak menentu karena biasanya masalah yang membuat galau adalah sesuatu yang sudah bisa diprediksi endingnya namun begitu sulit untuk diterima akal sehat"

Ahahahahahhha.... saya yakin, kawan-kawan yang membaca definisi "galau" a la saya akan semakin bingung dan galau. Baiklah, saya akan mendeskripsikan galau ini dengan lebih mudah: "memikirkan segala yang sebenarnya sudah ada jawabannya, tapi hati kita menolak jawaban tersebut". Hmmmm.... masih bingung juga..? Itu adalah pertanda bahwa anda benar-benar galau!

Contoh galau yang biasa terjadi di sekeliling kita:

Seorang teman. Dia pacaran dengan seseorang yang jelas sangat dia cintai. Namun perilaku si arjuna ini sangat mengganggunya. Sang lelaki sering melakukan hal-hal yang membuat teman saya ini mempertanyakan kesetiaannya. Contohnya: flirting dengan wanita lain dan ketahuan, tidak menjawab telepon di saat-saat tertentu, membuat dua akun facebook yang isinya sama sekali berbeda, chatting ria dengan wanita lain dengan bahasa yang tidak senonoh, dan saat ketangkap, dia akan ngeles sebisa-bisanya, bahkan bisa memarahi teman saya yang baik hati dan mudah dimanipulasi itu. Dan akhirnya teman saya ini menjadi "korban" seolah dia adalah perempuan yang tidak mempercayai kekasihnya. Dan endingnya, dia galau "salah gue apa ya, kok jadi salah gue ya, tapi kan gue sayang ama dia, kenapa jadi gini ya, dst...dst..". Dan biasanya orang galau akan menjadi sangat tidak konsentrasi dalam bekerja, tatapannya kosong, otaknya tidak bekerja dengan baik, dan matanya berair. Biasanya galauers ini akan sakit, standarnya: sakit kepala atau maag. Itu pertanda awal dari stress.

Kalau sudah begini, saya berpikir... teman saya ini kasihan ya. Dia sudah tahu masalahnya. Dia sudah tahu jawabannya. Dia sudah tahu apa yang harusnya dia lakukan. Tapi DIA TIDAK MAU. Kenapa? Karena DIA TIDAK SANGGUP berpisah dengan pacar tercintanya.

Kesimpulan saya, galau itu adalah perasaan yang ngga perlu ada. Hanya menyakiti diri sendiri, dan tidak melibatkan akal sehat sama sekali.

Jadi? Ngga perlu galau la yau...!! Kata saya.... :)

Thursday, May 17, 2012

mengeluhlah... lalu bangkit

Sunday, December 5, 2010 at 5:44pm

Seorang teman selalu mengeluhkan berbagai permasalahan yang dialaminya. Atasannya yang tidak menghargai hasil pekerjaannya, yang tidak pernah cukup memberi arahan, yang lebih menyukai rekan kerja lain dibanding dirinya, yang terlalu sibuk untuk memahami segala hal yang terjadi di lingkungannya, sering menginstruksikan hal-hal yang tidak masuk akal, bla, bla, bla...

Seorang teman lain selalu mengeluhkan kehidupan pribadinya. Kekasihnya yang kerap tidak mengerti dirinya, kurang memberi perhatian, tidak menunjukkan perasaan cinta, selalu berbohong, pelit, tidak mau bersikap manis saat sedang hang out bersama teman-teman lain, belum mau melamar, tidak setia, bla, bla, bla..

Sahabat saya selalu dipusingkan dengan pekerjaannya yang dianggap terlalu menyita waktu, suaminya yang tak baik, anak-anaknya yang sulit diatur, staf-staf yang tidak bisa memenuhi harapannya, lingkungan kerja yang tidak menyenangkan, gaji yang tidak memadai, bla, bla, bla...

Saya selalu senang dengan permasalahan yang diceritakan orang lain. Selain mengasah empati, menambah pengetahuan, membantu yang bersangkutan untuk sedikit mengurangi beban pikirannya... Menurut saya semua permasalahan itu mencerminkan beberapa aspek di diri saya juga. Terkadang saya tersenyum dan bergumam "eh, masalah kita kok sama ya" atau "ealaaahh, gw jugaaaa!!" Atau "yang bener loh, nyindir gue yaaa!!?". Gitu deh..

Selama ini beberapa teman dengan setia mencurahkan segala permasalahan hidupnya kepada saya, dan sebaliknya juga saya curhat habis-habisan dengan mereka. Pada dasarnya, saya memegang teguh azas sharing di dalam kehidupan ini. Saya berpendapat, sebuah masalah yang dishare dengan orang yang tepat, akan sangat meringankan beban berat di kepala, minimal setengahnya... Walopun terus terang saja, tidak semua ada solusinya :D

Kalimat yang paling sering saya sampaikan ke para sahabat adalah:
1. Segala hal yang terjadi padamu adalah kehendak zat Maha Tinggi, dan sudah merupakan rencana terindah yang diberikan Nya padamu.
2. Jika kau membuka lebar hatimu, membiarkan jiwamu bebas, maka kau akan menemukan banyak hal yang dapat dipelajari dari semua masalah yang menimpamu.
3. Tak ada satupun hal yang terjadi secara kebetulan, segalanya pasti ada tujuannya, hanya diri kita terkadang terlalu "sempit" dalam memandang sesuatu.
4. Jika tiba-tiba masalah datang beruntun dan tak terkendali, maka pilahlah! Segala yang tak bisa kau intervensi, maka itu bukan masalahMU. Lepaskanlah, dan biarkan pemilik masalah sesungguhnya yang menyelesaikannya.
5. Waktu adalah musuhmu. Segala yang kau harapkan, akan terjadi pada saat yang tepat, hanya waktu yang bisa membuatnya nyata.
6. Seribu kegagalan merupakan seribu cara yang salah dalam mengupayakan sesuatu. Tapi jangan khawatir, semua kegagalan itu akan membawamu ke berjuta kesuksesan, asal kau mau belajar dari kesalahanmu.

(Nomor berapa sekarang?) O, ya... Nomor 7: jangan menyalahkan orang lain untuk segala kegagalanmu. Itu berarti kau bukan orang yang bisa menerima kenyataan.
8. Mengenai rejeki (terkait pekerjaan, uang, jodoh, anak, posisi, kekuasaan, dll), percayalah... Jika itu bukan milikmu, maka walaupun kau mengerahkan seluruh hidupmu, dan seluruh makhluk di alam semesta ini untuk mendapatkannya, tidak akan kau dapatkan yang kau inginkan. Sebaliknya jika itu memang milikmu, segalanya akan berada di genggamanmu, walaupun seluruh dunia menentangnya. 'Khusus yang ini, saya ngutip pak uztad..hehehe'

Saya selalu mengingat 8 hal itu di saat kesialan menimpa... Dan 8 hal itu juga yang selalu menjadi kalimat ajaib yang saya share ke para sahabat yang sedang dirundung masalah. Bagi sebagian orang, itu hal klise yang hanya jadi ucapan penenang dan tak mudah dilaksanakan. It's easy to say, they said... Yes, indeed...

Buat saya, segala solusi, awalnya merupakan kata-kata bijak yang terangkai, bisa hasil mengutip, bisa hasil pemikiran sendiri, atau nasehat dari orang sok tahu seperti saya :) But still, it help... For me at least....

Jangan sampai terjebak menjadi manusia tertutup, belajarlah menjadi buku terbuka yang dapat dibaca oleh orang lain, dan kemudian menjadi pelajaran berharga untuk dipikirkan atau diterapkan.
Semua ucapan kita belum tentu dianggap benar dan baik bagi orang lain, tapi jika niat kita tulus, maka segala yang terbaik akan muncul dan memberi manfaat bagi sebagian orang.

Bagi saya, suatu masalah adalah bahan baku utama dalam proses pendewasaan diri dan pada saatnya nanti akan saya bagikan pada orang lain dan generasi penerus saya.

Jadi, selamat menemukan masalah dalam hidupmu dan belajarlah memecahkannya!!

Dua hari yang bisa anda abaikan

Sunday, March 20, 2011 at 1:21pm ·  

Netta the angel of mine

Saturday, November 5, 2011 at 5:41pm
 
Netta kecilku yang cantik...
Selalu menemaniku, dengan senyum manis dan rengekan manjanya
"Bunda, adek mau susuuuu...." dan dia menatap penuh harap dengan mata bola yang berkedip-kedip....
"Bunda, adek mau peymeeenn". lagi-lagi senyum cantiknya menggodaku..
Ah, anakku sayang... bagaimana bisa aku menolak keinginanmu..

Netta kecil selalu memelukku di saat sedih melanda... Believe it or not, pernah suatu saat aku menangis tersedu-sedu di dalam peluknya, dan tangan mungilnya membelai kepalaku sambil berkata "Bunda jangan menangis, adek ada di sini...". Bayangkan seorang anak kecil berusia kurang dari 4 tahun, mampu melakukan hal seindah itu..

Netta kecil selalu menjadi pelipur laraku.. saat dia membela kakaknya yang kena omelanku, dan Netta kecil memilih bersama kakaknya untuk bersatu "memusuhiku"... Ah, putri kecilku sang pembela yang lemah

Pernah suatu saat, aku tiba di rumah dalam kondisi basah kuyup kehujanan, saat membuka pintu rumah wajahnya begitu khawatir.. Netta memelukku, dan dengan gaya "tua" meminta pembantu RT kami untuk membuatkanku teh manis yang hangat. Netta lalu membimbingku ke dalam rumah, dan bilang "Bunda mandi dulu, nanti bisa masuk angin, nanti kalo sudah mandi, minum teh ama adek ya...". Bisakah kau bayangkan seorang anak kecil berusia kurang dari 4 tahun melakukan hal se-keibuan itu...?

Yang paling selalu membuatku terharu adalah kesetiaannya menemaniku. Saat diajak jalan ke mall oleh anggota keluarga lain, Netta akan berbalik menatapku dan baertanya "Bunda ikut ngga?" dan saat kujawab "Bunda ngga ikut, sayang", maka Netta kecilku akan bilang ke si pengajak "adek ngga ikut deh, mau nemenin Bunda aja".

Netta adalah malaikat kecil yang diutus Allah untukku. Saat dia meminta perhatianku, terkadang aku masih sibuk dengan pesan-pesan di BB ku, saat Netta membangunkanku tengah malam untuk minta susu kadang tak kukabulkan dengan kalimat "Bunda ngantuk, dek, capek...boleh minum susunya besok pagi lagi?" dan dia bilang "iya deh, tapi adek boleh isap jayi [baca:isap jari] kan, Bunda?". Ah.. bayangkan, Bunda macam apa aku ini...

Tapi Netta tidak pernah sekalipun meninggalkanku. Akulah yang meninggalkannya untuk bekerja, setiap hari.

Netta sayang, Bunda berjanji akan selalu memperbaiki diri Bunda untuk lebih memperhatikanmu, meluangkan waktu untuk bermain denganmu, dan mendidikmu menjadi putri yang tegar, kuat, bijaksana, sholehah, pelindung, dan segala yang terbaik selalu kumintakan bagimu dan kakak Naufal...

Amin Ya Rabb....

Tuesday, May 15, 2012

Hidup itu pilihan

Kehidupan itu terus berputar. Saat kita merasa berada di ujung keputus-asaan, Tuhan datang dan membimbing kita, menunjukkan jalan yang terindah. Itu teorinya...

Seharusnya semuanya menjadi mudah. Karena semuanya sudah tertulis di buku takdir. Semuanya telah ditetapkan bahkan saat kita belum terlahir ke dunia ini. Hidup adalah pilihan, kata orang. Maka pilihlah yang baik saja. Jangan sampai kau memilih yang salah dan lalu menyalahkan Tuhan atas kesialanmu. Itu salahmu sendiri. Kamu memilih untuk menjadi tidak baik.

Mudah  bagi seseorang yang sudah mengalami segala yang terburuk, untuk menjalani yang terbaik. Karena tentunya dia takkan mau lagi berada di tempat yang terburuk itu lagi, kecuali jika dia sangat bodoh sampai kembali terjerumus di tempat yang tidak dia inginkan untuk kesekian kalinya. Namun beberapa orang memutuskan untuk meloncat kembali ke dalam lembah keburukan setelah berpikir, "saya tidak akan bisa mendapatkan yang terbaik".

Well, kamu salah kawan....
Segala yang terbaik akan datang pada saat yang tepat, dengan orang yang tepat. Tidak akan meleset. Panah takdir akan meluncur ke arahmu dan tepat menembus kepalamu. Tidak akan meleset sama sekali.

Saya adalah salah satu orang yang sudah merasakan sepotong bagian buruk dari kehidupan. Dan saya sudah menyerah. Bukan menyerah untuk hidup. Bukan menyerah dan kemudian layu. Tapi saya menyerahkan segalanya pada Dia yang telah meniupkan napas kehidupan pada saya. Apapun yang Dia inginkan untuk saya jalankan, akan saya jalani dengan seluruh  jiwa raga. Saya perlu ingat, Dia memberikan yang terbaik. Dan hal yang buruk pastilah berasal dari saya.

Cinta. Cita. Benci. Cemburu. Bahagia. Marah.

Berbahagialah

Sekian lama hujan-ku tak menghampiri, hari ini tepat di pukul 16.45 dia datang menyapaku..

"Bagaimana kabarmu", sapa Hujan. "Aku baik saja, walaupun tak sebaik dahulu", jawabku. Aku memeluknya erat, merasakan butiran air membelai kepalaku..lembut..

"Aku merindukanmu", kataku. Hujan tersenyum dan menari di hadapanku.. "Menarilah bersamaku". Aku merasakan air mata yang hangat mengalir di pipiku, tapi tentu saja sahabatku Sang Hujan dengan mudah menghapusnya, dan menyamarkannya hingga aku kembali terlihat baik-baik saja.

Akupun menceritakan padanya, bagaimana tangis dan tawaku selama dia tak ada. Selama kepergiannya, sudah terlalu banyak tangis yang keluar tanpa ada yang menyadari, apalagi menghapuskannya dari mataku. Hujan tertawa pelan... Begitu merdu di telingaku...

"Mengapa bersedih? Kau begitu sempurna dengan semua kesedihan dan bahagiamu, Tuhan mencintaimu dengan memberikan begitu banyak cobaan berat padamu..", dia tersenyum memelukku. "Tuhan begitu mencintaimu, maka dia menginginkanmu terus berada di dekatnya, dan dia berikan cobaan itu untuk membuatmu tetap mencintaiNya, dan tentu saja Dia ingin menjadikanmu manusia yang lebih baik dari sebelumnya", kata sang Hujan yang cantik, begitu lembut. Pelukannya menenangkanku, sekaligus membuat air mataku mengalir semakin deras.

"Tapi mengapa kesedihan ini terasa begitu membelenggu?", bisikku dalam dekapan Hujan. Sahabatku tersenyum semakin lebar, sejuk tatapannya membuatku malu... "Karena kau mengijinkan kesedihan itu menguasaimu, maka dia datang padamu, memeluk, dan membelenggumu, hingga pada suatu titik kau merasa, kau memang pantas berteman dengannya". Aku terdiam sejenak, membayangkan segala kesedihan itu. Seperti ada dentang bel di dalam kepalaku.

Sahabatku sang Hujan kembali menarikku kedalam sejuk peluknya. "Berbahagialah", bisiknya... "Dan bersyukurlah untuk segala yang ada padamu".

Sejenak kupejamkan mata, merasakan dingin yang membasahi seluruh tubuh. Kedamaian menyelusup ke relung hati, dan saat kubuka mata... Hujan telah pergi. Busur pelangi perlahan terlukis samar, dan kusadari sahabatku telah pergi. Aku akan sangat merindukannya....

"Berbahagialah", samar masih terngiang bisikan sang Hujan di telingaku... Ya, berbahagialah....

Sahabatku, hujan

Hujan pagi ini membangunkan saya karena rasa dingin yang tiba-tiba masuk melalui celah jendela kamar. Ditambah pendingin ruangan yang memang sudah dingin dan kicauan dua malaikat kecil yang ribut memaksa saya membuka mata walaupun rasanya sangat berat. Flu yang menyerang sejak 2 hari lalu membuat kepala saya terasa begitu pening, dan tanpa sadar tangan saya menarik selimut tebal menutupi kepala "please just let me sleep again...".

Saya memutuskan untuk tidak beraktifitas apapun hari ini, bangun dari tempat tidur saja rasanya begitu sulit, ditambah perasaan enggan bertemu dengan meja kerja dan segala isinya, semakin membulatkan tekad saya untuk "stay at home no matter happen, i really need some rest".

Setelah ruangan kamar tidak terlalu terasa berputar, saya perlahan duduk di pinggir tempat tidur... Berpikir keras... Bagaimana dengan setumpuk pekerjaan yang menanti? Bagaimana dengan semua janji temu yang telah dibuat hari ini? Bagaimana dengan persiapan ini dan itu yang belum sempat diselesaikan? Lalu kepala saya terasa semakin pening. "Ah, whatever.. Kesehatan saya lebih penting" kata suara cempreng dari dalam dada saya.

Ponsel saya raih, dan mulai mengetikkan kalimat permohonan ijin ke atasan, dan beberapa reminder kepada teman-teman kantor, agar tidak lupa mengerjakan hal-hal yang seharusnya saya kerjakan hari ini. "Selesai, now let's hope and pray that everything will be OK".

Setelah suasana sekeliling lebih tenang, saya mencoba memejamkan mata "sleep, eyes...sleep..." Tapi otak saya terus berputar entah ke arah mana, entah memikirkan apa atau siapa. "Sleep Dewi, sleep" kata suara cempreng dari dalam dada saya. But my eyes refuse it...malah makin lebar terbuka bersamaan dengan bisingnya kerja otak di dalam tempurung kepala saya. Ah, damn... "Why!?".

Lalu saya membuka jendela kamar dan bertatapan langsung dengan sang hujan. Derainya seperti tertawa mengejek. Angin dingin yang dibawanya seperti memang berniat mengusik saya. Mengajak saya bermain bersama, seperti dulu, seperti yang selalu kami lakukan dulu. Perlahan tangan saya julurkan keluar jendela, mencuri segenggam air hujan, dan tersenyum senang bersamanya. Ah, hujanpun merindukanku ternyata... Perlahan roda berisik yang bekerja di kepalaku, berangsur diam.. Lalu hening sama sekali, sepertinya menunggu untuk mendengarkan percakapan saya dengan sang hujan.

Bulir-bulir untaian cerita dan curahan hatipun mengalir kepada hujan melalui jendela kamar saya, segala hal yang akhir-akhir ini mengusik ketenangan, semua yang tak mampu saya selesaikan, polah para sahabat yang semakin membingungkan, kesedihan dan segala ketidakpastian, semua mengalir begitu saja tanpa kata. Tanpa energi berlebih yang biasa dibutuhkan saat menuangkan uneg-uneg kepada para "ventilasi" saya.. Karena saat ini tak ada lagi energi untuk itu. I'm done with all those mess...

Butiran hujan diluar sana tertawa terbahak mengetahui isi kepala saya. Dia terkikik-kikik saat berkata "who the heck do you think you are?" >:( dan saya tersinggung oleh pertanyaan itu. Dia melanjutkan, "semua akan tetap berjalan tanpamu" dan dia bahkan mengutip kalimat bijak seorang sahabat saya "tak ada orang yang tidak tergantikan". Saya tersipu. Lanjutnya "so, why do you let your precious heart and intelligent brain suffer for these thoughts?". Saya lagi-lagi tersipu. Melihat reaksi saya, sang hujan semakin terbahak dan menari riang. Semakin deras butirannya menghantam jendela kamar yang terbuka. Terpercik sedikit saja air hujan membuat saya ingin berlari keluar dan memeluknya. Saya rindu hujan tapi tak mungkin memeluknya sekarang, flu itu akan semakin giat menyerang saat dinginnya hujan menyambut saya.

Saya menyadari segala awal pasti ada akhirnya, dan segala ketidakpastian adalah hal yang paling pasti di dunia ini. Seribu kegagalan yang saya alami adalah seribu cara yang salah yang akan mengarahkan saya ke berjuta hal yang benar. Hidup yang saya jalani sekarang adalah kesempurnaan. Terbayang secarik kertas kecil yang saya tempel di dinding sekat ruangan kerja saya "kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang". Yes indeed... Maka selama saya selalu berusaha menyenangkan semua orang dan tidak berpikir untuk mengorbankan perasaan beberapa orang, maka saya jelas gagal! Saya tersenyum malu saat sang hujan menari-nari di luar sana, menertawakan semua isi kepala saya. Yes indeed...

Suara cempreng di dalam dada saya berbisik "dear, you don't need anything, anymore..." Saya memiliki diri saya dan segala karunia yang saat ini menempel pada kehidupan saya patut disyukuri. Ketimbang sibuk larut di dalam simpul-simpul tak terurai, akan jauh lebih bermakna jika saya membangun masa depan dengan investasi jangka panjang bermata bening yang saat ini sedang menatap saya dengan penuh rasa ingin tahu "Bunda cakit ya? Kok nda kelja?". Ah... Malaikat kecilku.. Zanetta Elsa Maharani, kaulah alasan terbesarku untuk tetap menjejakkan kaki sekuat-kuatnya dan menegakkan tubuh setegak-tegaknya, lalu berkata "saya adalah seseorang dan saya tidak membutuhkan orang lain untuk menjadikan saya bermakna". Sombong, tapi buat saya itulah hal yang patut disyukuri dan dijadikan tonggak penopang saat racun labil akan membunuh saya.

Tanpa sadar sang hujan telah berlalu, meninggalkan saya bersama senyuman ganjil yang sudah lama tak terukir di wajah saya. Bahkan tak ada kata perpisahan darinya, saya hanya berharap dapat bertemu lagi dengannya dalam kondisi yang lebih baik dan memungkinkan saya memeluknya erat. Good bye, my rain... I'll have some sleep now...

Monday, April 23, 2012

Perjalanan singkat dengan Kopaja

Hari Selasa yang biasa banget. Setelah menumpang bis Lippo yang nyaman, saya harus naik Kopaja untuk tiba di kantor. Kopaja adalah bis jadi-jadian yang berwarna hijau, sangat buluk, jalannya zig-zag, tapi banyak peminatnya. Saya dapat duduk, tepat di belakang supir. Supir bis enak banget ngerokok, asapnya kemana-mana... cewek di sebelah saya melirik sebel, trus ngeluarin kertas dari tasnya... mulai kipas-kipas, mencegah asap jahanam itu masuk kehidung. Ibu-ibu berkerudung menutup hidungnya dengan ujung kain kerudung, sambil memalingkan kepalanya menjauhi asap rokok yang mengepul-ngepul. Saya sendiri sudah menyiapkan sapu tangan yang wangi untuk menutup hidung dan menghalau segala jenis bau-bauan. Supir kopaja tetep menghisap rokoknya dengan nikmat. EGP, batinnya...

Sebenarnya jarak antara halte bis lippo ke kantor saya cukup dekat, sekitar 5 menit dengan sepeda motor, 10 menit dengan mobil, 30 menit dengan jalan kaki. Dengan Kopaja, saya bisa tiba di kantor dalam waktu 30 menit. Pilihan lain adalah naik taksi 10 menit dengan ongkos 6 kali lipat atau ojeg yang hanya 5 menit tapi ongkosnya 5 kali lipat. Mempertimbangkan hal ini, sayapun memilih naik Kopaja yang murah dan sangat meriah [baca: menjengkelkan]. Info yang pernah saya dengar, Kopaja adalah pembunuh nomor satu di jalan raya. Ha ha ha..

Kopaja berjalan perlahan tapi pasti. Jakarta di pagi hari macet seperti biasa. Keneknya berteriak rame, "Manggarai, Manggarai, kosongggg!". Hati saya misuh-misuh "Kosong dari Hongkong! Penumpang udah pada berdiri gini, lo bilang kosong". Penumpang naik lagi, lagi, dan lagi.. sampai bis penuh sesak, dan akhirnya ada penumpang yang hanya berhasil naik setengah, setengah badannya di dalam bis, tangan berpegangan erat di pintu, setengah badan lainnya berayun-ayun di luar bis yang jalannya makin doyong ke kiri.
 

Seorang wanita bergaya kantoran bergelantungan di bagian depan bis, pantatnya menempel mesra di bahu saya "untung cewek" pikir saya. Kalo cowok ngga kebayang deh.. Wanita itu berguncang dengan rikuh setiap bis Kopaja zig zag dan mengerem. Dia berpegangan kuat pada besi gelantungan, sambil mendekap erat tasnya. Saya paham banget gaya itu, khas penduduk ibu kota yang tidak punya pilihan lain selain naik kopaja, dengan konsekuensi harus menjaga barang dan harta pribadinya agar tidak dicopet orang. Saya juga sering bergaya itu. Dan saya juga pernah kecopetan HP di bis jenis itu, 4 tahun lalu.

Kopaja jalan pelan sekali. Sambil kena macet, sambil mengambil penumpang yang banyak bertebaran di pinggir jalan. Asap rokok pak supir masih mengepul-ngepul. Seorang penumpang nekat menegur pak supir "Bang, rokoknya bisa dimatiin ngga? Asapnya bikin sesak". Pak Supir hanya melengos sambil menjawab "Turun aja, Bu, naik taksi". Sialan nih supir, batin saya mengutuk-ngutuk. Penumpang itu hanya mendelik sebel, dan pasrah. Dia mundur ke bagian yang lebih jauh dari supir. Sebuah usaha yang sia-sia mengingat Kopaja itu sekarang sudah penuh sesak.

Wanita yang pantatnya nempel di bahu saya akhirnya turun setelah mengetuk-ngetukkan tinjunya ke atap Kopaja. Dia melompat keluar dengan ringan, dan saya menatapnya iri. Dia akhirnya bebas dari siksaan asap rokok supir Kopaja sialan ini. Saya buru-buru memajukan badan agar tidak ada pantat lain menempel di bahu saya. Enak aja, emangnya bahu saya apaan....

Kantor sudah semakin dekat. Sayapun bersiap turun. Berdiri dan beringsut-ingsut berjalan mendekati pintu bis ternyata sulit sekali. Saya tetap berjuang dan mendekap erat tas saya. Amit-amit jangan sampe kecopetan lagi. Bis tetap melaju kencang, sepertinya ngga ada tanda-tanda akan berhenti. Saya meninju atap Kopaja dengan semangat, supirnya berteriak "SABARRRR!!". Belum juga Kopaja berhenti sempurna, saya sudah melompat turun (dengan kaki kiri tentunya), dan mendarat dengan selamat di sekitar 15 meter dari depan gerbang kantor. Ga papa dah, jalan kaki dikit...

Bernapas lega. Rutinitas pagi, ke toilet dulu, cuci tangan, rapi-rapi pakaian, dan melangkah dengan ringan menuju ruangan kantorku yang nyaman dan ber-AC. Siap bekerja. Pengalaman seru naik Kopaja akan terulang lagi di hari berikutnya. Nikmati saja.




Sombong

Gue percaya, segala sesuatu itu ada alasannya..

Akhir-akhir ini rasanya kondisi kantor sangat tidak nyaman.. dan bukannya tanpa alasan.
Awalnya hanya karena seorang teman yang becandanya ngga asik. Lalu seorang teman yang baru bergabung, juga menimbulkan perasaan ngga asik. Lebih karena cara berpikir yang beda dan kami tidak sepakat mengenai kesukaan atau ketidaksukaan terhadap seseorang.. Ketidaksamaan itu menimbulkan ketidaknyamanan..

Buat gue, ngga masalah kalo ngga sama, tapi gue juga ngga bisa memaksakan untuk berteman dengan orang yang ngga punya kesamaan ama gue. Paling engga, harus ada kesamaan, biar ngobrolnya nyambung. Perbedaan boleh ada, ya namanya juga manusia, pasti unik, ngga ada yang sama persis.. malah perbedaan itu perlu, untuk saling mengingatkan, saling mempelajari, jadi ngga kaget lagi kalo ketemu manusia tipe itu.

Gue sadar banget, ada sisi egois yang besar di dalam diri gue, dan di diri sebagian besar manusia lain pada umumnya. Kita itu ngga suka ditentang. Kita ngga suka kalo ada orang yang beda ama kita, dan terus terang menunjukkan "ketidak-samaan" nya. Kepala kita akan bilang "belagu nih orang"... Lantas gue pikir-pikir lagi, yang belagu itu siapa? Siapakah dirimu yang merasa bahwa semua orang harus setuju sama semua pemikiran lo? Yang egois itu elo...

Gue sadar banget, ada bibit sombong dalam diri gue. Pernah suatu waktu gue bilang "apa sih yang gue ngga bisa?" bayangin betapa sombongnya manusia satu ini. Beberapa kali pekerjaan temen-temen gue bikin gregetan, karena rasanya kalo gue yang mengerjakan, pasti udah kelar.. Sampai akhirnya gue misuh-misuh di belakang mereka dan sibuk sekali membandingkan mereka dengan gue yang super hebat. Memang gue punya pemikiran yang sangat praktis, cepat, dan nyaris tanpa mikir panjang.. itu jadi kelebihan gue dan pada akhirnya juga merupakan kelemahan gue. Kecepatan itu membuat gue jadi ngga sabaran, serba ingin cepat, nyaris ngga bisa menunggu, dan itu membuat orang lain bisa sebel bisa suka. Buat yang biasa kerja cepat dan membutuhkan arahan langsung, gue OK, tapi buat orang yang ngga suka buru-buru, berpikir panjang, gue sama sekali ngga asik.

Gue ngga mau jadi orang yang sombong, nganggap enteng orang lain. Gue pengen jadi orang yang low profile. Ngga keliatan terlalu cadas. Ngga terlalu menuntut. Gue ingin jadi orang yang disukai orang lain. Isn't that everybodys' will? 

Kadang gue ngerasa lucu aja, gue suka berlaku sebaliknya dari yang gue katakan. Gue selalu bilang, jangan sombong, apa yang mau disombongin? Ternyata gue yang sombong. Gue selalu bilang bahwa ngga mungkin kita bisa menyenangkan semua orang. Ternyata gue lah yang sibuk berusaha menyenangkan semua orang. Gue lah yang palsu. Gue selalu bilang, gue kuat, karena gue ngga pernah mikirin apa kata orang tentang gue... ternyata gue sangat mikirin apa kata orang tentang gue.

Tapi apakah itu artinya gue ngga baik sama sekali? Temen gue banyak. Gue punya sahabat. Gue punya pengagum. Gue punya orang-orang sekeliling gue yang sangat menghargai gue. Atasan gue menganggap gue bisa kerja, bisa diandalkan. Bawahan gue juga menganggap gue pemimpin yang cukup baik, bersih, dan ngga ngerepotin. Hanya terkadang gue pikir, apa iya itu semua adalah diri gue? Atau hanya sekedar imej yang gue ciptakan untuk tampilan luar gue?

Akhirnya kembali ke bentukan gue sebagai manusia. Gue egois. Gue manusia biasa. Berusaha terus memperbaiki diri. Mengakui kekurangan diri sendiri. Mengurangi menyakiti orang lain. Mengisi hari-hari dengan cinta. Berbagi dengan sesama. Menyenangkan orang lain. Menjaga perasaan teman. Mengurangi marah, sombong, dengki, dan dendam. Menyembuhkan luka. Berbuat yang baik setiap harinya. Berharap segala sakit yang terjadi adalah penebus dosa-dosa gue di masa lalu. Yang terpenting adalah berusaha memperbaiki diri, sebelum saatnya tiba untuk ketemu dengan Sang Pencipta.

Ada kutipan bagus: kita menjadi seperti sekarang karena Allah melindungi aib kita. Maka tidak usah sombong.  Kalo Allah menghendaki, terbuka semua keburukan kita. Selesai.