Tuesday, May 15, 2012

Berbahagialah

Sekian lama hujan-ku tak menghampiri, hari ini tepat di pukul 16.45 dia datang menyapaku..

"Bagaimana kabarmu", sapa Hujan. "Aku baik saja, walaupun tak sebaik dahulu", jawabku. Aku memeluknya erat, merasakan butiran air membelai kepalaku..lembut..

"Aku merindukanmu", kataku. Hujan tersenyum dan menari di hadapanku.. "Menarilah bersamaku". Aku merasakan air mata yang hangat mengalir di pipiku, tapi tentu saja sahabatku Sang Hujan dengan mudah menghapusnya, dan menyamarkannya hingga aku kembali terlihat baik-baik saja.

Akupun menceritakan padanya, bagaimana tangis dan tawaku selama dia tak ada. Selama kepergiannya, sudah terlalu banyak tangis yang keluar tanpa ada yang menyadari, apalagi menghapuskannya dari mataku. Hujan tertawa pelan... Begitu merdu di telingaku...

"Mengapa bersedih? Kau begitu sempurna dengan semua kesedihan dan bahagiamu, Tuhan mencintaimu dengan memberikan begitu banyak cobaan berat padamu..", dia tersenyum memelukku. "Tuhan begitu mencintaimu, maka dia menginginkanmu terus berada di dekatnya, dan dia berikan cobaan itu untuk membuatmu tetap mencintaiNya, dan tentu saja Dia ingin menjadikanmu manusia yang lebih baik dari sebelumnya", kata sang Hujan yang cantik, begitu lembut. Pelukannya menenangkanku, sekaligus membuat air mataku mengalir semakin deras.

"Tapi mengapa kesedihan ini terasa begitu membelenggu?", bisikku dalam dekapan Hujan. Sahabatku tersenyum semakin lebar, sejuk tatapannya membuatku malu... "Karena kau mengijinkan kesedihan itu menguasaimu, maka dia datang padamu, memeluk, dan membelenggumu, hingga pada suatu titik kau merasa, kau memang pantas berteman dengannya". Aku terdiam sejenak, membayangkan segala kesedihan itu. Seperti ada dentang bel di dalam kepalaku.

Sahabatku sang Hujan kembali menarikku kedalam sejuk peluknya. "Berbahagialah", bisiknya... "Dan bersyukurlah untuk segala yang ada padamu".

Sejenak kupejamkan mata, merasakan dingin yang membasahi seluruh tubuh. Kedamaian menyelusup ke relung hati, dan saat kubuka mata... Hujan telah pergi. Busur pelangi perlahan terlukis samar, dan kusadari sahabatku telah pergi. Aku akan sangat merindukannya....

"Berbahagialah", samar masih terngiang bisikan sang Hujan di telingaku... Ya, berbahagialah....

No comments:

Post a Comment