Sekian lama hujan-ku tak menghampiri, hari ini tepat di pukul 16.45 dia datang menyapaku..
"Bagaimana
kabarmu", sapa Hujan. "Aku baik saja, walaupun tak sebaik dahulu",
jawabku. Aku memeluknya erat, merasakan butiran air membelai
kepalaku..lembut..
"Aku merindukanmu", kataku. Hujan tersenyum
dan menari di hadapanku.. "Menarilah bersamaku". Aku merasakan air mata
yang hangat mengalir di pipiku, tapi tentu saja sahabatku Sang Hujan
dengan mudah menghapusnya, dan menyamarkannya hingga aku kembali
terlihat baik-baik saja.
Akupun menceritakan padanya, bagaimana
tangis dan tawaku selama dia tak ada. Selama kepergiannya, sudah terlalu
banyak tangis yang keluar tanpa ada yang menyadari, apalagi
menghapuskannya dari mataku. Hujan tertawa pelan... Begitu merdu di
telingaku...
"Mengapa bersedih? Kau begitu sempurna dengan semua
kesedihan dan bahagiamu, Tuhan mencintaimu dengan memberikan begitu
banyak cobaan berat padamu..", dia tersenyum memelukku. "Tuhan begitu
mencintaimu, maka dia menginginkanmu terus berada di dekatnya, dan dia
berikan cobaan itu untuk membuatmu tetap mencintaiNya, dan tentu saja
Dia ingin menjadikanmu manusia yang lebih baik dari sebelumnya", kata
sang Hujan yang cantik, begitu lembut. Pelukannya menenangkanku,
sekaligus membuat air mataku mengalir semakin deras.
"Tapi
mengapa kesedihan ini terasa begitu membelenggu?", bisikku dalam dekapan
Hujan. Sahabatku tersenyum semakin lebar, sejuk tatapannya membuatku
malu... "Karena kau mengijinkan kesedihan itu menguasaimu, maka dia
datang padamu, memeluk, dan membelenggumu, hingga pada suatu titik kau
merasa, kau memang pantas berteman dengannya". Aku terdiam sejenak,
membayangkan segala kesedihan itu. Seperti ada dentang bel di dalam
kepalaku.
Sahabatku sang Hujan kembali menarikku kedalam sejuk
peluknya. "Berbahagialah", bisiknya... "Dan bersyukurlah untuk segala
yang ada padamu".
Sejenak kupejamkan mata, merasakan dingin yang
membasahi seluruh tubuh. Kedamaian menyelusup ke relung hati, dan saat
kubuka mata... Hujan telah pergi. Busur pelangi perlahan terlukis samar,
dan kusadari sahabatku telah pergi. Aku akan sangat merindukannya....
"Berbahagialah", samar masih terngiang bisikan sang Hujan di telingaku... Ya, berbahagialah....
No comments:
Post a Comment