Tuesday, May 15, 2012

Sahabatku, hujan

Hujan pagi ini membangunkan saya karena rasa dingin yang tiba-tiba masuk melalui celah jendela kamar. Ditambah pendingin ruangan yang memang sudah dingin dan kicauan dua malaikat kecil yang ribut memaksa saya membuka mata walaupun rasanya sangat berat. Flu yang menyerang sejak 2 hari lalu membuat kepala saya terasa begitu pening, dan tanpa sadar tangan saya menarik selimut tebal menutupi kepala "please just let me sleep again...".

Saya memutuskan untuk tidak beraktifitas apapun hari ini, bangun dari tempat tidur saja rasanya begitu sulit, ditambah perasaan enggan bertemu dengan meja kerja dan segala isinya, semakin membulatkan tekad saya untuk "stay at home no matter happen, i really need some rest".

Setelah ruangan kamar tidak terlalu terasa berputar, saya perlahan duduk di pinggir tempat tidur... Berpikir keras... Bagaimana dengan setumpuk pekerjaan yang menanti? Bagaimana dengan semua janji temu yang telah dibuat hari ini? Bagaimana dengan persiapan ini dan itu yang belum sempat diselesaikan? Lalu kepala saya terasa semakin pening. "Ah, whatever.. Kesehatan saya lebih penting" kata suara cempreng dari dalam dada saya.

Ponsel saya raih, dan mulai mengetikkan kalimat permohonan ijin ke atasan, dan beberapa reminder kepada teman-teman kantor, agar tidak lupa mengerjakan hal-hal yang seharusnya saya kerjakan hari ini. "Selesai, now let's hope and pray that everything will be OK".

Setelah suasana sekeliling lebih tenang, saya mencoba memejamkan mata "sleep, eyes...sleep..." Tapi otak saya terus berputar entah ke arah mana, entah memikirkan apa atau siapa. "Sleep Dewi, sleep" kata suara cempreng dari dalam dada saya. But my eyes refuse it...malah makin lebar terbuka bersamaan dengan bisingnya kerja otak di dalam tempurung kepala saya. Ah, damn... "Why!?".

Lalu saya membuka jendela kamar dan bertatapan langsung dengan sang hujan. Derainya seperti tertawa mengejek. Angin dingin yang dibawanya seperti memang berniat mengusik saya. Mengajak saya bermain bersama, seperti dulu, seperti yang selalu kami lakukan dulu. Perlahan tangan saya julurkan keluar jendela, mencuri segenggam air hujan, dan tersenyum senang bersamanya. Ah, hujanpun merindukanku ternyata... Perlahan roda berisik yang bekerja di kepalaku, berangsur diam.. Lalu hening sama sekali, sepertinya menunggu untuk mendengarkan percakapan saya dengan sang hujan.

Bulir-bulir untaian cerita dan curahan hatipun mengalir kepada hujan melalui jendela kamar saya, segala hal yang akhir-akhir ini mengusik ketenangan, semua yang tak mampu saya selesaikan, polah para sahabat yang semakin membingungkan, kesedihan dan segala ketidakpastian, semua mengalir begitu saja tanpa kata. Tanpa energi berlebih yang biasa dibutuhkan saat menuangkan uneg-uneg kepada para "ventilasi" saya.. Karena saat ini tak ada lagi energi untuk itu. I'm done with all those mess...

Butiran hujan diluar sana tertawa terbahak mengetahui isi kepala saya. Dia terkikik-kikik saat berkata "who the heck do you think you are?" >:( dan saya tersinggung oleh pertanyaan itu. Dia melanjutkan, "semua akan tetap berjalan tanpamu" dan dia bahkan mengutip kalimat bijak seorang sahabat saya "tak ada orang yang tidak tergantikan". Saya tersipu. Lanjutnya "so, why do you let your precious heart and intelligent brain suffer for these thoughts?". Saya lagi-lagi tersipu. Melihat reaksi saya, sang hujan semakin terbahak dan menari riang. Semakin deras butirannya menghantam jendela kamar yang terbuka. Terpercik sedikit saja air hujan membuat saya ingin berlari keluar dan memeluknya. Saya rindu hujan tapi tak mungkin memeluknya sekarang, flu itu akan semakin giat menyerang saat dinginnya hujan menyambut saya.

Saya menyadari segala awal pasti ada akhirnya, dan segala ketidakpastian adalah hal yang paling pasti di dunia ini. Seribu kegagalan yang saya alami adalah seribu cara yang salah yang akan mengarahkan saya ke berjuta hal yang benar. Hidup yang saya jalani sekarang adalah kesempurnaan. Terbayang secarik kertas kecil yang saya tempel di dinding sekat ruangan kerja saya "kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang". Yes indeed... Maka selama saya selalu berusaha menyenangkan semua orang dan tidak berpikir untuk mengorbankan perasaan beberapa orang, maka saya jelas gagal! Saya tersenyum malu saat sang hujan menari-nari di luar sana, menertawakan semua isi kepala saya. Yes indeed...

Suara cempreng di dalam dada saya berbisik "dear, you don't need anything, anymore..." Saya memiliki diri saya dan segala karunia yang saat ini menempel pada kehidupan saya patut disyukuri. Ketimbang sibuk larut di dalam simpul-simpul tak terurai, akan jauh lebih bermakna jika saya membangun masa depan dengan investasi jangka panjang bermata bening yang saat ini sedang menatap saya dengan penuh rasa ingin tahu "Bunda cakit ya? Kok nda kelja?". Ah... Malaikat kecilku.. Zanetta Elsa Maharani, kaulah alasan terbesarku untuk tetap menjejakkan kaki sekuat-kuatnya dan menegakkan tubuh setegak-tegaknya, lalu berkata "saya adalah seseorang dan saya tidak membutuhkan orang lain untuk menjadikan saya bermakna". Sombong, tapi buat saya itulah hal yang patut disyukuri dan dijadikan tonggak penopang saat racun labil akan membunuh saya.

Tanpa sadar sang hujan telah berlalu, meninggalkan saya bersama senyuman ganjil yang sudah lama tak terukir di wajah saya. Bahkan tak ada kata perpisahan darinya, saya hanya berharap dapat bertemu lagi dengannya dalam kondisi yang lebih baik dan memungkinkan saya memeluknya erat. Good bye, my rain... I'll have some sleep now...

No comments:

Post a Comment