Monday, April 23, 2012

Perjalanan singkat dengan Kopaja

Hari Selasa yang biasa banget. Setelah menumpang bis Lippo yang nyaman, saya harus naik Kopaja untuk tiba di kantor. Kopaja adalah bis jadi-jadian yang berwarna hijau, sangat buluk, jalannya zig-zag, tapi banyak peminatnya. Saya dapat duduk, tepat di belakang supir. Supir bis enak banget ngerokok, asapnya kemana-mana... cewek di sebelah saya melirik sebel, trus ngeluarin kertas dari tasnya... mulai kipas-kipas, mencegah asap jahanam itu masuk kehidung. Ibu-ibu berkerudung menutup hidungnya dengan ujung kain kerudung, sambil memalingkan kepalanya menjauhi asap rokok yang mengepul-ngepul. Saya sendiri sudah menyiapkan sapu tangan yang wangi untuk menutup hidung dan menghalau segala jenis bau-bauan. Supir kopaja tetep menghisap rokoknya dengan nikmat. EGP, batinnya...

Sebenarnya jarak antara halte bis lippo ke kantor saya cukup dekat, sekitar 5 menit dengan sepeda motor, 10 menit dengan mobil, 30 menit dengan jalan kaki. Dengan Kopaja, saya bisa tiba di kantor dalam waktu 30 menit. Pilihan lain adalah naik taksi 10 menit dengan ongkos 6 kali lipat atau ojeg yang hanya 5 menit tapi ongkosnya 5 kali lipat. Mempertimbangkan hal ini, sayapun memilih naik Kopaja yang murah dan sangat meriah [baca: menjengkelkan]. Info yang pernah saya dengar, Kopaja adalah pembunuh nomor satu di jalan raya. Ha ha ha..

Kopaja berjalan perlahan tapi pasti. Jakarta di pagi hari macet seperti biasa. Keneknya berteriak rame, "Manggarai, Manggarai, kosongggg!". Hati saya misuh-misuh "Kosong dari Hongkong! Penumpang udah pada berdiri gini, lo bilang kosong". Penumpang naik lagi, lagi, dan lagi.. sampai bis penuh sesak, dan akhirnya ada penumpang yang hanya berhasil naik setengah, setengah badannya di dalam bis, tangan berpegangan erat di pintu, setengah badan lainnya berayun-ayun di luar bis yang jalannya makin doyong ke kiri.
 

Seorang wanita bergaya kantoran bergelantungan di bagian depan bis, pantatnya menempel mesra di bahu saya "untung cewek" pikir saya. Kalo cowok ngga kebayang deh.. Wanita itu berguncang dengan rikuh setiap bis Kopaja zig zag dan mengerem. Dia berpegangan kuat pada besi gelantungan, sambil mendekap erat tasnya. Saya paham banget gaya itu, khas penduduk ibu kota yang tidak punya pilihan lain selain naik kopaja, dengan konsekuensi harus menjaga barang dan harta pribadinya agar tidak dicopet orang. Saya juga sering bergaya itu. Dan saya juga pernah kecopetan HP di bis jenis itu, 4 tahun lalu.

Kopaja jalan pelan sekali. Sambil kena macet, sambil mengambil penumpang yang banyak bertebaran di pinggir jalan. Asap rokok pak supir masih mengepul-ngepul. Seorang penumpang nekat menegur pak supir "Bang, rokoknya bisa dimatiin ngga? Asapnya bikin sesak". Pak Supir hanya melengos sambil menjawab "Turun aja, Bu, naik taksi". Sialan nih supir, batin saya mengutuk-ngutuk. Penumpang itu hanya mendelik sebel, dan pasrah. Dia mundur ke bagian yang lebih jauh dari supir. Sebuah usaha yang sia-sia mengingat Kopaja itu sekarang sudah penuh sesak.

Wanita yang pantatnya nempel di bahu saya akhirnya turun setelah mengetuk-ngetukkan tinjunya ke atap Kopaja. Dia melompat keluar dengan ringan, dan saya menatapnya iri. Dia akhirnya bebas dari siksaan asap rokok supir Kopaja sialan ini. Saya buru-buru memajukan badan agar tidak ada pantat lain menempel di bahu saya. Enak aja, emangnya bahu saya apaan....

Kantor sudah semakin dekat. Sayapun bersiap turun. Berdiri dan beringsut-ingsut berjalan mendekati pintu bis ternyata sulit sekali. Saya tetap berjuang dan mendekap erat tas saya. Amit-amit jangan sampe kecopetan lagi. Bis tetap melaju kencang, sepertinya ngga ada tanda-tanda akan berhenti. Saya meninju atap Kopaja dengan semangat, supirnya berteriak "SABARRRR!!". Belum juga Kopaja berhenti sempurna, saya sudah melompat turun (dengan kaki kiri tentunya), dan mendarat dengan selamat di sekitar 15 meter dari depan gerbang kantor. Ga papa dah, jalan kaki dikit...

Bernapas lega. Rutinitas pagi, ke toilet dulu, cuci tangan, rapi-rapi pakaian, dan melangkah dengan ringan menuju ruangan kantorku yang nyaman dan ber-AC. Siap bekerja. Pengalaman seru naik Kopaja akan terulang lagi di hari berikutnya. Nikmati saja.




Sombong

Gue percaya, segala sesuatu itu ada alasannya..

Akhir-akhir ini rasanya kondisi kantor sangat tidak nyaman.. dan bukannya tanpa alasan.
Awalnya hanya karena seorang teman yang becandanya ngga asik. Lalu seorang teman yang baru bergabung, juga menimbulkan perasaan ngga asik. Lebih karena cara berpikir yang beda dan kami tidak sepakat mengenai kesukaan atau ketidaksukaan terhadap seseorang.. Ketidaksamaan itu menimbulkan ketidaknyamanan..

Buat gue, ngga masalah kalo ngga sama, tapi gue juga ngga bisa memaksakan untuk berteman dengan orang yang ngga punya kesamaan ama gue. Paling engga, harus ada kesamaan, biar ngobrolnya nyambung. Perbedaan boleh ada, ya namanya juga manusia, pasti unik, ngga ada yang sama persis.. malah perbedaan itu perlu, untuk saling mengingatkan, saling mempelajari, jadi ngga kaget lagi kalo ketemu manusia tipe itu.

Gue sadar banget, ada sisi egois yang besar di dalam diri gue, dan di diri sebagian besar manusia lain pada umumnya. Kita itu ngga suka ditentang. Kita ngga suka kalo ada orang yang beda ama kita, dan terus terang menunjukkan "ketidak-samaan" nya. Kepala kita akan bilang "belagu nih orang"... Lantas gue pikir-pikir lagi, yang belagu itu siapa? Siapakah dirimu yang merasa bahwa semua orang harus setuju sama semua pemikiran lo? Yang egois itu elo...

Gue sadar banget, ada bibit sombong dalam diri gue. Pernah suatu waktu gue bilang "apa sih yang gue ngga bisa?" bayangin betapa sombongnya manusia satu ini. Beberapa kali pekerjaan temen-temen gue bikin gregetan, karena rasanya kalo gue yang mengerjakan, pasti udah kelar.. Sampai akhirnya gue misuh-misuh di belakang mereka dan sibuk sekali membandingkan mereka dengan gue yang super hebat. Memang gue punya pemikiran yang sangat praktis, cepat, dan nyaris tanpa mikir panjang.. itu jadi kelebihan gue dan pada akhirnya juga merupakan kelemahan gue. Kecepatan itu membuat gue jadi ngga sabaran, serba ingin cepat, nyaris ngga bisa menunggu, dan itu membuat orang lain bisa sebel bisa suka. Buat yang biasa kerja cepat dan membutuhkan arahan langsung, gue OK, tapi buat orang yang ngga suka buru-buru, berpikir panjang, gue sama sekali ngga asik.

Gue ngga mau jadi orang yang sombong, nganggap enteng orang lain. Gue pengen jadi orang yang low profile. Ngga keliatan terlalu cadas. Ngga terlalu menuntut. Gue ingin jadi orang yang disukai orang lain. Isn't that everybodys' will? 

Kadang gue ngerasa lucu aja, gue suka berlaku sebaliknya dari yang gue katakan. Gue selalu bilang, jangan sombong, apa yang mau disombongin? Ternyata gue yang sombong. Gue selalu bilang bahwa ngga mungkin kita bisa menyenangkan semua orang. Ternyata gue lah yang sibuk berusaha menyenangkan semua orang. Gue lah yang palsu. Gue selalu bilang, gue kuat, karena gue ngga pernah mikirin apa kata orang tentang gue... ternyata gue sangat mikirin apa kata orang tentang gue.

Tapi apakah itu artinya gue ngga baik sama sekali? Temen gue banyak. Gue punya sahabat. Gue punya pengagum. Gue punya orang-orang sekeliling gue yang sangat menghargai gue. Atasan gue menganggap gue bisa kerja, bisa diandalkan. Bawahan gue juga menganggap gue pemimpin yang cukup baik, bersih, dan ngga ngerepotin. Hanya terkadang gue pikir, apa iya itu semua adalah diri gue? Atau hanya sekedar imej yang gue ciptakan untuk tampilan luar gue?

Akhirnya kembali ke bentukan gue sebagai manusia. Gue egois. Gue manusia biasa. Berusaha terus memperbaiki diri. Mengakui kekurangan diri sendiri. Mengurangi menyakiti orang lain. Mengisi hari-hari dengan cinta. Berbagi dengan sesama. Menyenangkan orang lain. Menjaga perasaan teman. Mengurangi marah, sombong, dengki, dan dendam. Menyembuhkan luka. Berbuat yang baik setiap harinya. Berharap segala sakit yang terjadi adalah penebus dosa-dosa gue di masa lalu. Yang terpenting adalah berusaha memperbaiki diri, sebelum saatnya tiba untuk ketemu dengan Sang Pencipta.

Ada kutipan bagus: kita menjadi seperti sekarang karena Allah melindungi aib kita. Maka tidak usah sombong.  Kalo Allah menghendaki, terbuka semua keburukan kita. Selesai.