Melihat judulnya, pasti semua orang akan berpikir... mmm... Kahlil Gibran..
Yeah.. it's not. Ini adalah kisah tentang saya.
Saya menatap kehidupan. Me.. After that broken-hearted-break-up.. DAMN... I think I will never be the same. Saya berpikir, saya takkan pernah utuh kembali. Saya takkan bisa memandang dunia dengan cara yang seindah dulu lagi. Saya takkan mampu terbang tinggi dan menikmati indahnya dunia dari atas sana. Saya jatuh, dan terpuruk, sayap-sayap saya tercerai-berai, patah.
Namun sekarang semuanya berbeda. Semua berubah saat saya menemukan dia. Atau dia menemukan saya? Ah, kami saling menemukan, nampaknya. Dia yang begitu naif. Begitu murni. Begitu tenang. Entah sejak kapan saya mulai mencintai dia. Jika dirunut-runut, kami telah saling menemukan sejak lama, 3 tahun lalu. Namun kami tak berani saling meneruskan karena posisi saya yang unavailable.
Kalo inget jaman dulu... hehehe....
Dia selalu jadi orang yang bersikap berbeda di hadapan saya. Sikap itu yang membuat saya juga jadi memandang dia berbeda. Saat yang lain mendekati saya dan senang berbicara dengan saya, dia akan menatap saya dari jauh dan memilih berbicara dengan saya melalui yahoo messenger. Entah mengapa sikap dia selalu membuat saya salah tingkah. Rasa tak nyaman muncul jika harus berbicara berdua saja dengannya. Rasa gelisah jika berada di suatu tempat hanya berdua dengannya.
Saya ingat, dulu saya pernah menceritakan dia pada sahabat saya nun jauh di sana. Saya menceritakan tentang rasanya ada yang aneh dengan salah satu teman saya. Saya suka. Saat itu, rasanya seperti mengalami perasaan cinta terlarang. Hahahaha.. Dan saya berhenti membicarakannya.
3 tahun berlalu, here I am. Semuanya telah berubah. I'm available now. Dan dia muncul begitu saja, menawarkan perasaannya yang begitu putih, lembut, dan terkadang terasa "liar". Saya merasakan benih cinta yang dulu ada (cie cie cie) ternyata malah bersemi. Cinta itu membuncah. Tak terkontrol. Menggebu. Lepas. Liar.
Waktu menjawab semuanya. Saya yakin itu. Saat ini saya sedang mempelajari dia. Saya sudah menemukan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, apakah terus atau berhenti mencintai dia. Sifat sensitif dan kekanak-kanakannya sedikit mengganggu. Dia terlalu takut kehilangan saya, dan akhirnya menjadi sedikit posesif. Dan itu mengganggu. Saya belum tahu itu akan se-mengganggu apa kedepannya.