Hujan pagi ini membangunkan saya karena rasa dingin yang tiba-tiba masuk
melalui celah jendela kamar. Ditambah pendingin ruangan yang memang
sudah dingin dan kicauan dua malaikat kecil yang ribut memaksa saya
membuka mata walaupun rasanya sangat berat. Flu yang menyerang sejak 2
hari lalu membuat kepala saya terasa begitu pening, dan tanpa sadar
tangan saya menarik selimut tebal menutupi kepala "please just let me
sleep again...".
Saya memutuskan untuk tidak beraktifitas apapun
hari ini, bangun dari tempat tidur saja rasanya begitu sulit, ditambah
perasaan enggan bertemu dengan meja kerja dan segala isinya, semakin
membulatkan tekad saya untuk "stay at home no matter happen, i really
need some rest".
Setelah ruangan kamar tidak terlalu terasa
berputar, saya perlahan duduk di pinggir tempat tidur... Berpikir
keras... Bagaimana dengan setumpuk pekerjaan yang menanti? Bagaimana
dengan semua janji temu yang telah dibuat hari ini? Bagaimana dengan
persiapan ini dan itu yang belum sempat diselesaikan? Lalu kepala saya
terasa semakin pening. "Ah, whatever.. Kesehatan saya lebih penting"
kata suara cempreng dari dalam dada saya.
Ponsel saya raih, dan
mulai mengetikkan kalimat permohonan ijin ke atasan, dan beberapa
reminder kepada teman-teman kantor, agar tidak lupa mengerjakan hal-hal
yang seharusnya saya kerjakan hari ini. "Selesai, now let's hope and
pray that everything will be OK".
Setelah suasana sekeliling
lebih tenang, saya mencoba memejamkan mata "sleep, eyes...sleep..." Tapi
otak saya terus berputar entah ke arah mana, entah memikirkan apa atau
siapa. "Sleep Dear, sleep" kata suara cempreng dari dalam dada saya. But
my eyes refuse it...malah makin lebar terbuka bersamaan dengan
bisingnya kerja otak di dalam tempurung kepala saya. Ah, damn...
"Why!?".
Lalu saya membuka jendela kamar dan bertatapan langsung
dengan sang hujan. Derainya seperti tertawa mengejek. Angin dingin yang
dibawanya seperti memang berniat mengusik saya. Mengajak saya bermain
bersama, seperti dulu, seperti yang selalu kami lakukan dulu. Perlahan
tangan saya julurkan keluar jendela, mencuri segenggam air hujan, dan
tersenyum senang bersamanya. Ah, hujanpun merindukanku ternyata...
Perlahan roda berisik yang bekerja di kepalaku, berangsur diam.. Lalu
hening sama sekali, sepertinya menunggu untuk mendengarkan percakapan
saya dengan sang hujan.
Bulir-bulir untaian cerita dan curahan
hatipun mengalir kepada hujan melalui jendela kamar saya, segala hal
yang akhir-akhir ini mengusik ketenangan, semua yang tak mampu saya
selesaikan, polah para sahabat yang semakin membingungkan, kesedihan dan
segala ketidakpastian, semua mengalir begitu saja tanpa kata. Tanpa
energi berlebih yang biasa dibutuhkan saat menuangkan uneg-uneg kepada
para "ventilasi" saya.. Karena saat ini tak ada lagi energi untuk itu.
I'm done with all those mess...
Butiran hujan diluar sana tertawa
terbahak mengetahui isi kepala saya. Dia terkikik-kikik saat berkata
"who the heck do you think you are?" >:( dan saya tersinggung oleh
pertanyaan itu. Dia melanjutkan, "semua akan tetap berjalan tanpamu" dan
dia bahkan mengutip kalimat bijak seorang sahabat saya "tak ada orang
yang tidak tergantikan". Saya tersipu. Lanjutnya "so, why do you let
your precious heart and intelligent brain suffer for these thoughts?".
Saya lagi-lagi tersipu. Melihat reaksi saya, sang hujan semakin terbahak
dan menari riang. Semakin deras butirannya menghantam jendela kamar
yang terbuka. Terpercik sedikit saja air hujan membuat saya ingin
berlari keluar dan memeluknya. Saya rindu hujan tapi tak mungkin
memeluknya sekarang, flu itu akan semakin giat menyerang saat dinginnya
hujan menyambut saya.
Saya menyadari segala awal pasti ada
akhirnya, dan segala ketidakpastian adalah hal yang paling pasti di
dunia ini. Seribu kegagalan yang saya alami adalah seribu cara yang
salah yang akan mengarahkan saya ke berjuta hal yang benar. Hidup yang
saya jalani sekarang adalah kesempurnaan. Terbayang secarik kertas kecil
yang saya tempel di dinding sekat ruangan kerja saya "kegagalan adalah
berusaha menyenangkan semua orang". Yes indeed... Maka selama saya
selalu berusaha menyenangkan semua orang dan tidak berpikir untuk
mengorbankan perasaan beberapa orang, maka saya jelas gagal! Saya
tersenyum malu saat sang hujan menari-nari di luar sana, menertawakan
semua isi kepala saya. Yes indeed...
Suara cempreng di dalam dada
saya berbisik "dear, you don't need anything, anymore..." Saya memiliki
diri saya dan segala karunia yang saat ini menempel pada kehidupan saya
patut disyukuri. Ketimbang sibuk larut di dalam simpul-simpul tak
terurai, akan jauh lebih bermakna jika saya membangun masa depan dengan
investasi jangka panjang bermata bening yang saat ini sedang menatap
saya dengan penuh rasa ingin tahu "Bunda cakit ya? Kok nda kelja?".
Ah... Malaikat kecilku.. my little Maharani kaulah alasan terbesarku
untuk tetap menjejakkan kaki sekuat-kuatnya dan menegakkan tubuh
setegak-tegaknya, lalu berkata "saya adalah seseorang dan saya tidak
membutuhkan orang lain untuk menjadikan saya bermakna". Sombong, tapi
buat saya itulah hal yang patut disyukuri dan dijadikan tonggak penopang
saat racun labil akan membunuh saya.
Tanpa sadar sang hujan
telah berlalu, meninggalkan saya bersama senyuman ganjil yang sudah lama
tak terukir di wajah saya. Bahkan tak ada kata perpisahan darinya, saya
hanya berharap dapat bertemu lagi dengannya dalam kondisi yang lebih
baik dan memungkinkan saya memeluknya erat. Good bye, my rain... I'll
have some sleep now...