Thursday, April 11, 2013

Pantai

Sebuah pantai tanpa nama di Kota Kupang, NTT. Awal Desember 2011.
Aku suka sekali pantai.
Suka dengan pasirnya. Pasir putih, abu-abu, coklat.
Suka dengan satu garis horisontal yang seolah menjadi batas antara langit dan bumi.
Suka dengan awan yang bebas berarak tanpa terbatasi oleh gedung tinggi atau apapun.
Suka dengan suara deburan ombak yang bisa tiba-tiba bergerak liar dan mengejar kaki-kaki kita.
Suka dengan hembusan angin yang mempermainkan pakaian kita, hingga berkibar seperti ingin melepaskan diri. 
Suka dengan udara romantis yang terhirup saat sedang termenung di pinggirannya.
Suka dengan makhluk laut yang terdampar di pasir, bergerak bebas mencoba kembali ke laut. 
Suka dengan panasnya mentari yang membakar kulit.
Suka dengan rasa damai yang menyeruak saat memandang ke kejauhan.
Suka dengan "keluasan" yang seolah tanpa batas.



Pantai Indrayanti, Jogjakarta. Awal November 2012.
Aku suka pantai dengan semua kemistisannya.
Aku senang bermain dengan ombaknya.
Senang menenggelamkan tubuhku ke air lautnya.
Senang dengan pasir dan bebatuan yang terasa di kakiku saat berjalan ke kedalaman.
Pantai itu selalu penuh cinta.
Udara pantai seperti sebuah mekanisme pencuci hati, yang seketika bisa membuat hati tenang saat berada di sana. 
Kita bisa seolah berbicara dengan angin di sana, mencurahkan segalanya pada Sang Angin.



Aku suka bermain dengan ombaknya.
Ombak itu seperti menggoda. Mengajak bercengkrama.
Saat dia berhasil menyentuh kaki kita, seolah dia berlari menjauh dan kembali mengejar kita.

Aku suka dengan Sang Mentari. 
Saat siang, dia begitu garang menyinari pantai dan membuat semua mata memicing dan akhirnya semua kulit akan mengelupas dan menghitam saat tak dilindungi dengan krim khusus "penolak dampak matahari". :)
Buatku, matahari terindah adalah saat dia muncul pertama kali di pagi hari, dan tenggelam di akhr hari. Terlihat di antara garis horisontal yang menjadi batas bumi dan langit. Warna jingga, begitu hangat.

Matahari seperti mengajarkan filosofi hidup, bahwa apapun yang terjadi hari ini, baik dan buruk, akan tenggelam bersama hilangnya matahari di balik garis langit. Hari esok sudah menanti. Maka berhentilah menyesali semua yang sudah terjadi, buat sejarah baru bersama dengan terbitnya matahari dari garis langit.
Yeah...
Aku suka sekali pantai... laut.... angin.... ombak.... pasir....



Tuesday, April 9, 2013

BENCI


Aku benci dengan semua wanita selain ibumu dan adikmu dan ibuku dan kakakku
Semua wanita yang berada di dekatmu
Atau jauh tapi masih terjangkau dengan teknologi yang ada
Yang bisa membuatmu tersenyum dan berlama-lama dengan mereka
Yang bicara dengan nada genit padamu dan kau balas juga sama genitnya
Yang menyentuhmu dengan niat busuk di kepala mereka


Aku benci dengan caramu berbicara dengan semua wanita itu
Aku  benci dengan caramu menanggapi pembicaraan mereka
Aku benci dengan kesopananmu menghadapi mereka
Membuat mereka merasa nyaman di dekatmu
Membuat mereka merasa diperhatikan olehmu
Membuat mereka merasa disukai olehmu


Aku benci dengan semua wanita di masa lalumu
Yang hingga saat ini masih terus berbicara denganmu
Yang sampai sekarang masih terus berharap bisa berdekat-dekat denganmu
Yang selalu mencari celah agar dapat mendapatkan perhatianmu
Yang akhirnya akan selalu menjadi bagian hidupmu
Karena Tuhan sudah mempertemukan mereka denganmu

Aku benci bagaimana kita "terlambat" dipertemukan
Hingga mereka bisa masuk terlebih dulu ke kehidupanmu
Menjadi orang yang dulu pernah kau sukai, bahkan mungkin kau cintai
Aku benci membayangkan bagaimana dulu kau pernah bersama mereka 
Aku benci dengan semua yang sudah terjadi dan tak bisa kuubah

Pada akhirnya aku menyadari, dirikulah yang paling kubenci
Aku benci pada rasa cemburu, dengki, insecure, dendam, prasangka
Yang begitu dalam melekat di diriku
Menari-nari liar di kepalaku
Meracuni pikiran dan alam bawah sadarku

Dirikulah yang paling kubenci
Karena tak mampu melawan semua kebencian ini
Karena tak mampu menata perasaan dan mengabaikan semua prasangka
Karena tak mampu menutup hati dari segala yang terburuk
Karena memilih menikmati rasa benci

Aku benci



Monday, December 3, 2012

Sayap yang patah

Melihat judulnya, pasti semua orang akan berpikir... mmm... Kahlil Gibran..

Yeah.. it's not. Ini adalah kisah tentang saya.

Saya menatap kehidupan. Me.. After that broken-hearted-break-up.. DAMN... I think I will never be the same. Saya berpikir, saya takkan pernah utuh kembali. Saya takkan bisa memandang dunia dengan cara yang seindah dulu lagi. Saya takkan mampu terbang tinggi dan menikmati indahnya dunia dari atas sana. Saya jatuh, dan terpuruk, sayap-sayap saya tercerai-berai, patah.

Namun sekarang semuanya berbeda. Semua berubah saat saya menemukan dia. Atau dia menemukan saya? Ah, kami saling menemukan, nampaknya. Dia yang begitu naif. Begitu murni. Begitu tenang. Entah sejak kapan saya mulai mencintai dia. Jika dirunut-runut, kami telah saling menemukan sejak lama, 3 tahun lalu. Namun kami tak berani saling meneruskan karena posisi saya yang unavailable.

Kalo inget jaman dulu... hehehe....
Dia selalu jadi orang yang bersikap berbeda di hadapan saya. Sikap itu yang membuat saya juga jadi memandang dia berbeda. Saat yang lain mendekati saya dan senang berbicara dengan saya, dia akan menatap saya dari jauh dan memilih berbicara dengan saya melalui yahoo messenger. Entah mengapa sikap dia selalu membuat saya salah tingkah. Rasa tak nyaman muncul jika harus berbicara berdua saja dengannya. Rasa gelisah jika berada di suatu tempat hanya berdua dengannya.

Saya ingat, dulu saya pernah menceritakan dia pada sahabat saya nun jauh di sana. Saya menceritakan tentang rasanya ada yang aneh dengan salah satu teman saya. Saya suka. Saat itu, rasanya seperti mengalami perasaan cinta terlarang. Hahahaha.. Dan saya berhenti membicarakannya.

3 tahun berlalu, here I am. Semuanya telah berubah. I'm available now. Dan dia muncul begitu saja, menawarkan perasaannya yang begitu putih, lembut, dan terkadang terasa "liar". Saya merasakan benih cinta yang dulu ada (cie cie cie) ternyata malah bersemi. Cinta itu membuncah. Tak terkontrol. Menggebu. Lepas. Liar.

Waktu menjawab semuanya. Saya yakin itu. Saat ini saya sedang mempelajari dia. Saya sudah menemukan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, apakah terus atau berhenti mencintai dia. Sifat sensitif dan kekanak-kanakannya sedikit mengganggu. Dia terlalu takut kehilangan saya, dan akhirnya menjadi sedikit posesif. Dan itu mengganggu. Saya belum tahu itu akan se-mengganggu apa kedepannya.




Wednesday, August 29, 2012

Rain

Hujan pagi ini membangunkan saya karena rasa dingin yang tiba-tiba masuk melalui celah jendela kamar. Ditambah pendingin ruangan yang memang sudah dingin dan kicauan dua malaikat kecil yang ribut memaksa saya membuka mata walaupun rasanya sangat berat. Flu yang menyerang sejak 2 hari lalu membuat kepala saya terasa begitu pening, dan tanpa sadar tangan saya menarik selimut tebal menutupi kepala "please just let me sleep again...".

Saya memutuskan untuk tidak beraktifitas apapun hari ini, bangun dari tempat tidur saja rasanya begitu sulit, ditambah perasaan enggan bertemu dengan meja kerja dan segala isinya, semakin membulatkan tekad saya untuk "stay at home no matter happen, i really need some rest".

Setelah ruangan kamar tidak terlalu terasa berputar, saya perlahan duduk di pinggir tempat tidur... Berpikir keras... Bagaimana dengan setumpuk pekerjaan yang menanti? Bagaimana dengan semua janji temu yang telah dibuat hari ini? Bagaimana dengan persiapan ini dan itu yang belum sempat diselesaikan? Lalu kepala saya terasa semakin pening. "Ah, whatever.. Kesehatan saya lebih penting" kata suara cempreng dari dalam dada saya.

Ponsel saya raih, dan mulai mengetikkan kalimat permohonan ijin ke atasan, dan beberapa reminder kepada teman-teman kantor, agar tidak lupa mengerjakan hal-hal yang seharusnya saya kerjakan hari ini. "Selesai, now let's hope and pray that everything will be OK".

Setelah suasana sekeliling lebih tenang, saya mencoba memejamkan mata "sleep, eyes...sleep..." Tapi otak saya terus berputar entah ke arah mana, entah memikirkan apa atau siapa. "Sleep Dear, sleep" kata suara cempreng dari dalam dada saya. But my eyes refuse it...malah makin lebar terbuka bersamaan dengan bisingnya kerja otak di dalam tempurung kepala saya. Ah, damn... "Why!?".

Lalu saya membuka jendela kamar dan bertatapan langsung dengan sang hujan. Derainya seperti tertawa mengejek. Angin dingin yang dibawanya seperti memang berniat mengusik saya. Mengajak saya bermain bersama, seperti dulu, seperti yang selalu kami lakukan dulu. Perlahan tangan saya julurkan keluar jendela, mencuri segenggam air hujan, dan tersenyum senang bersamanya. Ah, hujanpun merindukanku ternyata... Perlahan roda berisik yang bekerja di kepalaku, berangsur diam.. Lalu hening sama sekali, sepertinya menunggu untuk mendengarkan percakapan saya dengan sang hujan.

Bulir-bulir untaian cerita dan curahan hatipun mengalir kepada hujan melalui jendela kamar saya, segala hal yang akhir-akhir ini mengusik ketenangan, semua yang tak mampu saya selesaikan, polah para sahabat yang semakin membingungkan, kesedihan dan segala ketidakpastian, semua mengalir begitu saja tanpa kata. Tanpa energi berlebih yang biasa dibutuhkan saat menuangkan uneg-uneg kepada para "ventilasi" saya.. Karena saat ini tak ada lagi energi untuk itu. I'm done with all those mess...

Butiran hujan diluar sana tertawa terbahak mengetahui isi kepala saya. Dia terkikik-kikik saat berkata "who the heck do you think you are?" >:( dan saya tersinggung oleh pertanyaan itu. Dia melanjutkan, "semua akan tetap berjalan tanpamu" dan dia bahkan mengutip kalimat bijak seorang sahabat saya "tak ada orang yang tidak tergantikan". Saya tersipu. Lanjutnya "so, why do you let your precious heart and intelligent brain suffer for these thoughts?". Saya lagi-lagi tersipu. Melihat reaksi saya, sang hujan semakin terbahak dan menari riang. Semakin deras butirannya menghantam jendela kamar yang terbuka. Terpercik sedikit saja air hujan membuat saya ingin berlari keluar dan memeluknya. Saya rindu hujan tapi tak mungkin memeluknya sekarang, flu itu akan semakin giat menyerang saat dinginnya hujan menyambut saya.

Saya menyadari segala awal pasti ada akhirnya, dan segala ketidakpastian adalah hal yang paling pasti di dunia ini. Seribu kegagalan yang saya alami adalah seribu cara yang salah yang akan mengarahkan saya ke berjuta hal yang benar. Hidup yang saya jalani sekarang adalah kesempurnaan. Terbayang secarik kertas kecil yang saya tempel di dinding sekat ruangan kerja saya "kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang". Yes indeed... Maka selama saya selalu berusaha menyenangkan semua orang dan tidak berpikir untuk mengorbankan perasaan beberapa orang, maka saya jelas gagal! Saya tersenyum malu saat sang hujan menari-nari di luar sana, menertawakan semua isi kepala saya. Yes indeed...

Suara cempreng di dalam dada saya berbisik "dear, you don't need anything, anymore..." Saya memiliki diri saya dan segala karunia yang saat ini menempel pada kehidupan saya patut disyukuri. Ketimbang sibuk larut di dalam simpul-simpul tak terurai, akan jauh lebih bermakna jika saya membangun masa depan dengan investasi jangka panjang bermata bening yang saat ini sedang menatap saya dengan penuh rasa ingin tahu "Bunda cakit ya? Kok nda kelja?". Ah... Malaikat kecilku.. my little Maharani kaulah alasan terbesarku untuk tetap menjejakkan kaki sekuat-kuatnya dan menegakkan tubuh setegak-tegaknya, lalu berkata "saya adalah seseorang dan saya tidak membutuhkan orang lain untuk menjadikan saya bermakna". Sombong, tapi buat saya itulah hal yang patut disyukuri dan dijadikan tonggak penopang saat racun labil akan membunuh saya.

Tanpa sadar sang hujan telah berlalu, meninggalkan saya bersama senyuman ganjil yang sudah lama tak terukir di wajah saya. Bahkan tak ada kata perpisahan darinya, saya hanya berharap dapat bertemu lagi dengannya dalam kondisi yang lebih baik dan memungkinkan saya memeluknya erat. Good bye, my rain... I'll have some sleep now...

Tuesday, July 10, 2012

apa yang kamu mau?

hai...
Saya hanya ingin share sedikit tentang keinginan. Saat ini saya nyaris tak tahu apa keinginan saya. Semuanya begitu abstrak. Saya mencoba menuliskan apa-apa saja yang saya inginkan.

Saya ingin sekali anak-anak saya hidup berkecukupan. Saya ingin mereka sekolah dengan baik, tumbuh menjadi anak yang pintar, hidup dalam ketenangan, selalu bahagia, dan tak merasa kurang karena kekurangan yang saat ini harus mereka rasakan...

Saya ingin diri saya mampu menjalani segala tantangan dalam hidup saya. Hati yang tenang. Jiwa yang damai. Tubuh dan mental yang sehat. Saya ingin bersekolah di luar negeri, menimba ilmu, dan kembali meniti karir di Indonesia. Karir yang bagus tentunya akan berbanding lurus dengan income yang bagus kan? Heheheh..

Saya ingin mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Bukan setengah-setengah. Karena anehnya selama ini yang saya cintai itu ilegal, terlarang, salah orang, atau lebih parah lagi, bukan cinta... Saya ingin mencintai seseorang hingga mampu mengorbankan hidup saya, hingga bisa tersenyum tanpa alasan, mampu mengarungi samudera luas demi cinta itu. Dan tentunya saya menginginkan orang itupun akan mencintai saya sebesar itu. Lalu saya berpikir...

Apakah itu mungkin? Setelah hati yang sedemikian tercabik, dan kepercayaann yang nyaris tak bersisa....? Saya sungguh tak berani mengatakan ini... saya ingin, tapi saya takut untuk berharap. Selama ini cinta terbesar yang pernah saya rasakan tentunya adalah cinta dari kedua orang tua saya, dan hingga kini saya masih belum mampu membalasnya. Mungkin seumur hidup saya takkan mampu membalasnya.

Saya hanya mampu membalas dengan berusaha tak menyakiti mereka. Berusaha menjadi anak yang membanggakan. Berusaha menjadi orang yang tak merepotkan orang lain.

See....? Saya ngalor ngidul... sebenanrnya saya mau nulis apa sih? Bahkan saat bicara sendiri pun saya tak tahu arah pembicaraan saya. hahhahahah

Monday, July 2, 2012

tanpa arah

Melihat judul tulisan saya, seperti orang yang ngga jelas..
Galau...
Ababil...
Tapi, kawan.... suka ngga suka itulah yang terjadi pada saya saat ini. Tanpa arah.

Sebenarnya saya punya tujuan hidup yang jelas: selamat dari siksa kubur dan masuk surga. Itu tentunya tujuan jangka panjang yang setiap orang pasti inginkan. Tapi saya juga manusia yang masih hidup di muka bumi. Saya masih menginginkan keduniawian. Saya menginginkan kesuksesan, karir yang baik, uang yang cukup untuk membiayai hidup saya dan anak-anak saya, sahabat yang baik (dan ganteng).. hehehhehe..

Saya menginginkan pengakuan. Kekuasaan. Cinta kasih. Kegembiraan.

Thursday, May 24, 2012

galau, penting gak?

Beberapa teman saya terkena sindrom "galau". 

Saya sendiri tidak terlalu paham apa yang dimaksud galau itu sebenarnya, tapi kira-kira begini deskripsinya:

"Galau adalah disaat kita merasa tak tahu apa yang harus dilakukan karena perasaan kita yang tidak menentu dan susah untuk diungkapkan, sebab jika diungkapkan kepada seseorang, maka perasaan akan semakin tidak menentu karena biasanya masalah yang membuat galau adalah sesuatu yang sudah bisa diprediksi endingnya namun begitu sulit untuk diterima akal sehat"

Ahahahahahhha.... saya yakin, kawan-kawan yang membaca definisi "galau" a la saya akan semakin bingung dan galau. Baiklah, saya akan mendeskripsikan galau ini dengan lebih mudah: "memikirkan segala yang sebenarnya sudah ada jawabannya, tapi hati kita menolak jawaban tersebut". Hmmmm.... masih bingung juga..? Itu adalah pertanda bahwa anda benar-benar galau!

Contoh galau yang biasa terjadi di sekeliling kita:

Seorang teman. Dia pacaran dengan seseorang yang jelas sangat dia cintai. Namun perilaku si arjuna ini sangat mengganggunya. Sang lelaki sering melakukan hal-hal yang membuat teman saya ini mempertanyakan kesetiaannya. Contohnya: flirting dengan wanita lain dan ketahuan, tidak menjawab telepon di saat-saat tertentu, membuat dua akun facebook yang isinya sama sekali berbeda, chatting ria dengan wanita lain dengan bahasa yang tidak senonoh, dan saat ketangkap, dia akan ngeles sebisa-bisanya, bahkan bisa memarahi teman saya yang baik hati dan mudah dimanipulasi itu. Dan akhirnya teman saya ini menjadi "korban" seolah dia adalah perempuan yang tidak mempercayai kekasihnya. Dan endingnya, dia galau "salah gue apa ya, kok jadi salah gue ya, tapi kan gue sayang ama dia, kenapa jadi gini ya, dst...dst..". Dan biasanya orang galau akan menjadi sangat tidak konsentrasi dalam bekerja, tatapannya kosong, otaknya tidak bekerja dengan baik, dan matanya berair. Biasanya galauers ini akan sakit, standarnya: sakit kepala atau maag. Itu pertanda awal dari stress.

Kalau sudah begini, saya berpikir... teman saya ini kasihan ya. Dia sudah tahu masalahnya. Dia sudah tahu jawabannya. Dia sudah tahu apa yang harusnya dia lakukan. Tapi DIA TIDAK MAU. Kenapa? Karena DIA TIDAK SANGGUP berpisah dengan pacar tercintanya.

Kesimpulan saya, galau itu adalah perasaan yang ngga perlu ada. Hanya menyakiti diri sendiri, dan tidak melibatkan akal sehat sama sekali.

Jadi? Ngga perlu galau la yau...!! Kata saya.... :)