Hari Selasa yang biasa banget. Setelah menumpang bis Lippo yang nyaman, saya harus naik Kopaja untuk tiba di kantor. Kopaja adalah bis jadi-jadian yang berwarna hijau, sangat buluk, jalannya zig-zag, tapi banyak peminatnya. Saya dapat duduk, tepat di belakang supir. Supir bis enak banget ngerokok, asapnya kemana-mana... cewek di sebelah saya melirik sebel, trus ngeluarin kertas dari tasnya... mulai kipas-kipas, mencegah asap jahanam itu masuk kehidung. Ibu-ibu berkerudung menutup hidungnya dengan ujung kain kerudung, sambil memalingkan kepalanya menjauhi asap rokok yang mengepul-ngepul. Saya sendiri sudah menyiapkan sapu tangan yang wangi untuk menutup hidung dan menghalau segala jenis bau-bauan. Supir kopaja tetep menghisap rokoknya dengan nikmat. EGP, batinnya...
Sebenarnya jarak antara halte bis lippo ke kantor saya cukup
dekat, sekitar 5 menit dengan sepeda motor, 10 menit dengan mobil, 30
menit dengan jalan kaki. Dengan Kopaja, saya bisa tiba di kantor dalam
waktu 30 menit. Pilihan lain adalah naik taksi 10 menit dengan ongkos 6
kali lipat atau ojeg yang hanya 5 menit tapi ongkosnya 5 kali lipat.
Mempertimbangkan hal ini, sayapun memilih naik Kopaja yang murah dan
sangat meriah [baca: menjengkelkan]. Info yang pernah saya dengar, Kopaja adalah pembunuh nomor satu di jalan raya. Ha ha ha..
Kopaja berjalan perlahan tapi pasti. Jakarta di pagi hari macet seperti biasa. Keneknya berteriak rame, "Manggarai, Manggarai, kosongggg!". Hati saya misuh-misuh "Kosong dari Hongkong! Penumpang udah pada berdiri gini, lo bilang kosong". Penumpang naik lagi, lagi, dan lagi.. sampai bis penuh sesak, dan akhirnya ada penumpang yang hanya berhasil naik setengah, setengah badannya di dalam bis, tangan berpegangan erat di pintu, setengah badan lainnya berayun-ayun di luar bis yang jalannya makin doyong ke kiri.
Seorang wanita bergaya kantoran bergelantungan di bagian depan bis, pantatnya menempel mesra di bahu saya "untung cewek" pikir saya. Kalo cowok ngga kebayang deh.. Wanita itu berguncang dengan rikuh setiap bis Kopaja zig zag dan mengerem. Dia berpegangan kuat pada besi gelantungan, sambil mendekap erat tasnya. Saya paham banget gaya itu, khas penduduk ibu kota yang tidak punya pilihan lain selain naik kopaja, dengan konsekuensi harus menjaga barang dan harta pribadinya agar tidak dicopet orang. Saya juga sering bergaya itu. Dan saya juga pernah kecopetan HP di bis jenis itu, 4 tahun lalu.
Kopaja jalan pelan sekali. Sambil kena macet, sambil mengambil penumpang yang banyak bertebaran di pinggir jalan. Asap rokok pak supir masih mengepul-ngepul. Seorang penumpang nekat menegur pak supir "Bang, rokoknya bisa dimatiin ngga? Asapnya bikin sesak". Pak Supir hanya melengos sambil menjawab "Turun aja, Bu, naik taksi". Sialan nih supir, batin saya mengutuk-ngutuk. Penumpang itu hanya mendelik sebel, dan pasrah. Dia mundur ke bagian yang lebih jauh dari supir. Sebuah usaha yang sia-sia mengingat Kopaja itu sekarang sudah penuh sesak.
Wanita yang pantatnya nempel di bahu saya akhirnya turun setelah mengetuk-ngetukkan tinjunya ke atap Kopaja. Dia melompat keluar dengan ringan, dan saya menatapnya iri. Dia akhirnya bebas dari siksaan asap rokok supir Kopaja sialan ini. Saya buru-buru memajukan badan agar tidak ada pantat lain menempel di bahu saya. Enak aja, emangnya bahu saya apaan....
Kantor sudah semakin dekat. Sayapun bersiap turun. Berdiri dan beringsut-ingsut berjalan mendekati pintu bis ternyata sulit sekali. Saya tetap berjuang dan mendekap erat tas saya. Amit-amit jangan sampe kecopetan lagi. Bis tetap melaju kencang, sepertinya ngga ada tanda-tanda akan berhenti. Saya meninju atap Kopaja dengan semangat, supirnya berteriak "SABARRRR!!". Belum juga Kopaja berhenti sempurna, saya sudah melompat turun (dengan kaki kiri tentunya), dan mendarat dengan selamat di sekitar 15 meter dari depan gerbang kantor. Ga papa dah, jalan kaki dikit...
Bernapas lega. Rutinitas pagi, ke toilet dulu, cuci tangan, rapi-rapi pakaian, dan melangkah dengan ringan menuju ruangan kantorku yang nyaman dan ber-AC. Siap bekerja. Pengalaman seru naik Kopaja akan terulang lagi di hari berikutnya. Nikmati saja.
No comments:
Post a Comment